Selasa, 16 Oktober 2018

My Daily Skincare Routine dan Balada Perubahan Skintype

Oktober 16, 2018 13
Assalamu'alaikum....

Saya mau cerita dulu ya sedikit. Jadi, mulai Maret 2018 kemarin saya kebingungan dengan muka sendiri. Pasalnya sepulang dari liburan ke Malang, saya mendapati kulit wajah menjadi kering, malah sekitar mata itu macam bersisik dan yang pastinya gatal. Mau ga mau kan digaruk, tapi ternyata malah makin parah, jadi iritasi dan ada sedikit perlukaan dan timbul..........flek hitam tipis πŸ’”.

Dari situ saya mulai curiga penuh kalo tipe kulit saya berubah, dulunya berminyak dengan masalah acne prone-nya, dan sekarang mulai menuju kering. Iya, kering banget malah.

Huhuhu, ternyata tipe kulit kering itu gitu ya, hiks πŸ’”.
Jah, sedih ya mukanya kering? Sama donk😒


Mendefinisikan Ulang Skintype 

Saya yang dulunya dengan wajah kaya kilang minyak, jerawat di sana-sini (kawahnya apalagi), sekarang justru mengalami defisit minyak? Mungkinkah?

Di situ lah saya merasa harus mendefinsikan ulang skintype saya.

Setelah saya bertafakur (((tafakur))) , memikirkan kenapa hal itu bisa terjadi, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa berubahnya skintype itu adalah sebuah hal yang mungkin sekali terjadi. Dan khusus tulisan kali ini saya ingin membahas sebab-sebab kulit berubah tipe dari oily to dry, yakni sebagai berikut;

1. Kemungkinan besar karena faktor hormon dan usia. Banyak teman yang usianya 30 tahun ke atas merasakan perubahan pada wajahnya yang juga berubah menjadi kering padahal dulunya berminyak.

Tapi saya 30 tahun saja belum genap, kenapa saya sedini ini mengalaminya? Poin di bawah ini menjadi pemicunya.

2. Saya abai perawatan wajah, bahkan selama 4 tahun menikah saya bisa menghabiskan 1 paket krim untuk setahun. Emejing....

3. Saya baru kenal sunscreen umur 28 tahun dan terbiasa keluar rumah dengan bare face, bahkan ga pakai pupur sekalipun! Emejing (2)......

4. Terlalu sering begadang, bikin hormon kortisol naik dan bioritme kacau. Sel-sel tubuh jelas banyak yang tidak sehat, terutama yang kelihatan banget adalah sel kulit.

(Hmmm... Ada yang samaan? Kebingungan dengan kondisi kulit sendiri?)

Pencarian "jati diri" skintype saya ga berakhir dengan kesimpulan saya sendiri. Yah, aku mah apa atuh, beauty blogger bukan, cuma serpihan kapas bekas milk cleanser yang baru dipakai ngelap wajah.

Karena ga cukup yakin "apakah kulit benar-benar bisa berubah jenisnya", saya pun bertanya dengan seorang teman beauty blogger FBB dan juga searching sana-sini. Dan akhirnya saya dapatkan informasi tentang kulit kering. Ini saya kutip dari situs alodokter.com, kalian bisa baca juga.


Jenis kulit wajah kering kurang memiliki kelembapan di lapisan kulit terluar. Hal ini mengakibatkan retakan pada permukaan kulit, serta akan terasa kering ketika disentuh. Kulit jenis ini juga lebih mudah memerah, gatal, bersisik, dan meradang. Kulit wajah kering bisa disebabkan atau diperburuk oleh faktor genetik, penuaan, perubahan hormon, cuaca dingin, sinar matahari, radiasi ultraviolet, mandi air panas terlalu lama, atau bahan yang terkandung dalam produk sabun, kosmetik, pembersih, hingga obat-obatan.


Ciri-cirinya semua ada di kulit wajah saya. Ok, fix.... Sampai sini saya kayanya sudah berhasil mendefinisikan ulang skintype saya, yaitu kulit (menjadi) kering.


Btw, kulit kering memang terkenal jenis kulit yang ga mudah jerawatan, tapi kabar buruknya jenis kulit ini adalah yang paling cepat bertemu dengan tanda-tanda penuaan 😿.

My Daily Skincare Routine Now

Jadi setelah meraba-raba perubahan jenis kulit akhirnya saya mengubah beberapa skincare saya agar sesuai dengan definisi baru skintype saya.

Berikut ini akan saya urutkan dengan membaginya antara skincare siang dan skincare malam ya....


πŸŒ… Skincare siang

1. Dimulai dari subuh, cuci muka dengan facial wash sekalian take wudhu buat sholat. Facial wash nya saya pakai dari Zalfa udah lebih setahun ini, cocok banget karena busanya minimalis dan ga bikin komedoan dan kusam. Iya, saya sering ga cocok sama yang busanya berlebih karena biasanya bakal muncul komedo dan wajah malah kusam.

Lebih lengkapnya saya pernah nulis di sini ya >> Review Facial Wash Zalfa

2. Sebelum mandi biasanya males ngoles krim apa-apa kan ya, belum cantik gini.  Tapi kulit rasanya kering. Gimana donk? Gampang....semprot aja muka pakai face mist, dijamin seger dan lembab! Saya juga baru sebulan ini mempraktekkan dan saya pilih untuk diy face mist karena makainya lumayan boros.

Haloo, yang penasaran pengen nyoba bikin sendiri bisa klik tulisan saya ya >> DIY Face Mist untuk Kulit Kering. Segar dan Lembab Seharian!
(kalo belum bisa diklik berarti belum ditulis πŸ˜‚✌️)

Pantes temen ada yang crazy in love sama face mist, ternyata......seger banget! 


Setelah mandi pagi baru deh saya mulai touch-up skincare.

Biasanya kalo subuhnya sudah cuci muka pakai sabun, pas mandi pagi saya ga lagi melakukan itu lagi karena terlalu sering cuci muka bikin kulit terkikis kelembaban alaminya, walhasil malah bikin muka tambah kering.

Jadi?

Lanjut no. 3

3. Jadi, pagi hari itu biasanya skincare pertama adalah; milk cleanser. Saya pakai dari Viva, merk legend yang kemasannya gitu-gitu aja mulai saya piyik. Saya pakainya yang varian Spirulina, belum begitu lama, baru sekitar 1 bulanan ini. Sebelumnya pakai yang Lemon, hasilnya cerah seketika begitu wajah dibersihkan, tapi ya masalah wajah kering tetap ga bisa teratasi, malah justru tambah kering. Naah, ketika saya ganti yang varian Spirulina lumayan banget di wajah.


4. Setelah itu lanjut tonernya, toner Spirulina, aplikasikan dengan menggunakan kapas ya. Harganya mumer bingit, sepasang ini cuma 16.000 dengan isi masing-masing 100 mL.

5. Setelah toner meresap lanjut serum. Apa itu serum, fungsi, dan merk apa yang saya pakai sudah pernah ditulis reviewnya ya.

Baca juga: serum anti aging Zalfa

6. Setelah serum meresap lanjutkan dengan krim pelembab untuk wajah dan eye cream untuk kulit sekitar mata.

Maaf yaa, mamak belum ada nulis review eye cream Viva. Tapi kalo krim pelembabnya sudah pernah.

Baca juga: Review lengkap Zalfa Flawless Bright

7. Setelah krim pelembab lanjut ke sunscreen, the most skincare-you-must-have. Kenapa harus banget? Saya sudah pernah bahas panjang lebuar di 2 tulisan saya sebelumnya ya. Monggo pinarak....

Baca juga: Review Sunscreen Parasol Cream dan Lotion; karena premature-aging itu nyata.

8. And last but not least, biasanya saya pakai face mist lagi, karena ditimpa krim dan krim lagi itu rada bikin gerah muka kan ya, jadi dikasih face mist aja lah supaya segeran. Semprotnya jangan dekat-dekat dan jangan kebanyakan juga yang sampai tes netes, nanti percuma donk skincare lapis nyaaah πŸ˜‚.

And the layers are finish until here for me....

Dah, gitu aja

 (((aja))))


Prinsip saya kalo di rumah memang menghindari pemakaian make-up kecuali "diperlukan", misal ada suami gitu *uhukk. Kenapa? karena untuk memberikan kesempatan kulit wajah bernafas lega. Tau kan ya kalo udah ketimpa foundie itu berarti menutup pori-pori kulit makanya kalo kelamaan make fondie muka jadi rawan komedoan dan hidung landak.

Jadi, saat di rumah itu maksimalkan di perawatan wajah aja menurut saya.

Ok, lanjut

πŸŒƒ Skincare Malam

1. Bersihkan wajah dengan double cleanser; facial wash dan milk cleanser. Kenapa harus double? Karena siangnya kita pakai sunscreen (dan apalagi ber-makeup). Sisa sunscreen (dan fondie) yang tidak terbersihkan dengan baik akan menyumbat pori-pori dan rawan menyebabkan jerawat.

2. Lanjutkan dengan layer yang sama dengan skincare pagi kecuali sunscreen. Jadi urutannya; toner > serum > krim pelembab > eye cream > face mist (kalo perlu)

Setelah ritual selesai, tinggal bobo cantik deh (kalo ditowel suami beda ceritanya ya *eaaa)

πŸ’• Other Skincare

Selain skincare harian, saya juga menambahkan beberapa skincare yang dipakai secara tidak rutin, tergantung kondisi wajah. Here they are....

1. Peeling dan masker
Selain menutrisi kulit dengan skincare chemical, kita juga tidak boleh lupa kalo sel kulit kita ini selalu beregenerasi. Akan selalu ada sel kulit mati yang jika tidak terangkat dengan baik akan menyebabkan kulit kusam dan komedo. Nah, si peeling ini yang membantu kulit kita untuk mengelupaskan sel-sel nya yang sudah mati. Untuk kulit kering ga perlu sering-sering peeling ya, cukup 1x dalam 1-2 pekan aja.
Skincare mamak ga jauh-jauh dari yang harganya murce

Kalo peeling dan masker saya biasa pakai ini. Murah dan hasilnya ok banget. Cocok buat mamak-mamak yang kebanyakan anggaran belanja tapi tetap mau merawat diriπŸ˜….

2. VCO
Alias minyak kelapa murni. Aiihh, diapakan minyak? Diminum lah, glek glek glek πŸ˜†. Minum VCO membantu merawat kulit dari dalam, meremajakan sel-sel kulit dan juga melembabkan. Kalo saya bilang ini sih inner skincare penolong saat wajah tiba-tiba kusam dan kering padahal perawatan sudah maksimal.
VCO nya besar, ukuran 1L. Menghabiskannya agak tricky, karena ini eneg banget *ya eyalah minyaak diminum πŸ˜…

3. Eye serum
Daerah kulit sekitar mata punya treatment sendiri loh. Di atas saya sudah nulis salah satu step skincare saya adalah eye cream. Nah, kalo eye serum ini dipakai saat kulit sekitar mata udah ga tertolong lagi keringnya, karena seperti yang pernah saya bilang di review sebelumnya kalo pakai eye serum ini macam oase di tengah gurun. Segerr banget.

Baca juga: Review Eye Pads Collagen Vienna. 


***

To sum up, saya pengen bikin ringkasannya supaya kalian bisa ambil benang merahnya.

Jadi, untuk skincare pagi dan siang ala mamak yang punya kulit kering,
Facial wash > milk cleanser > toner > serum > krim pelembab wajah dan mata > sunscreen > face mist

Dan untuk malam,
Double cleanser (milk cleanser then facial wash)  > toner > serum > krim wajah dan mata > face mist (boleh skip)

Jangan dibayangkan saya melakukan itu semua setiap hari, saya sama koq dengan mamak-mamak hectic di dunia, kadang kelupaan skincare terutama malam karena ketiduran setelah seharian berjibaku dengan banyak urusan. Hanya, saya selalu mengusahakan untuk melakukan step-step seperti yang sudah saya tuliskan di atas karena sekali lagi, punya kulit kering itu GA ENAK, dan itu yang memaksa saya untuk berusaha rutin ber-skincare.

Ok, I think it's enough. Ketemu sama skincare yang cocok di wajah itu memang membahagiakan ya. Alhamdulillah. Apakah skincare ini akan selamanya? Ga menutup kemungkinan ada perubahan karena bisa jadi wajah mengalami kejenuhan dan akibatnya ga ngefek sama sekali. Tapi untuk sementara ini saya udah klop banget lah sama mereka. Laff so much.



Rabu, 10 Oktober 2018

#FBBKolaborasi 5 Hal yang Berubah Setelah Menjadi Blogger

Oktober 10, 2018 14
Assalamu'alaikum.....

As usual, our community, Female Blogger of Banjarmasin, tiap bulannya menyelenggarakan #FBBKolaborasi. And special for this month, tema besar yang diambil adalah tentang Hari Blogger Nasional which is celebrated at 27th October every year in our country.

(Bukan anak Jak-SelπŸ‘†ulun anak Kal-Sel πŸ˜‚)

Hari Blogger Nasional ternyata sudah dicanangkan sejak 2007 oleh menteri Komunikasi Informatika kala itu, Bapak Muhammad Nuh. 2007 artinya saya masih kelas 2 SMA ya, waktu itu jangankan kenal blog, ngerti email aja saya ga, muahahaha πŸ™ˆ.

Sebagai blogger newbie saya bener-bener baru tau ada yang namanya Hari Blogger Nasional loh. Ya, wajar aja karena saya mainnya kurang lama sih, terhitung dari 4 April 2017 berarti saya baru aja ngeblog sekitar 18 bulan lewat 6 hari. Masih piyik, masih minim prestasi, minim job pula *eh *keceplosan πŸ˜‚✌️.

Nah, kali ini saya ingin menulis tentang apa saja perubahan yang saya rasakan ketika sudah menjadi blogger selama kurun waktu 1.5 tahun ini. Here we go....

1. Jadi lebih suka baca novel

Membaca adalah kebiasaan yang sempat hilang dari hidup saya. Membaca dalam artian megang buku ya, bukan membaca di gadget. Ketika menjadi blogger saya bertemu dengan beberapa blogger buku.  Melihat blio kayanya asyik banget menghabiskan novel saya koq jadi pengen. Akhirnya sekitar Juli 2017 ketika perekonomian keluarga juga mulai bangkit dari keterpurukan saya mulai merengek ke suami untuk dibelikan novel. Bagi saya rasanya ga puas kalo cuma menyewa, jadi saya tidak hanya ingin mengoleksi daftar buku yang sudah dibaca tapi bentuk fisiknya juga. Dan untuk penulisnya saya masih belum bisa move on dari karya-karya Tere Liye dan Hanum Rais. Adiktif. 

Kalo zaman masih sekolah sih bacaan saya seputar buku pelajaran aja dan itu kayanya jadi "makanan" saya banget, bener-bener dilahap (dulu sekolah masih menyenangkan ya, ga se-stress sekarang).

Nah, sekarang sudah jadi ibu masa iya harus baca buku pelajaran juga? Novel donk πŸ˜†. 

Walaupun cuma novel tapi manfaat yang saya rasakan banyak. Dari novel kita dapat pembelajaran hidup tanpa merasa digurui, memperkaya wawasan (jelas banget yang ini), kita juga bisa menambah kosakata, dan turut meningkatkan skill menulis secara tidak langsung. Dan saya paling suka baca novel yang membuat mulut saya terus membulat menyebut "Oooohh..... Ooooohhh!", itu artinya akan banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapat setelah ini. 

2. Printilan di meja rias bertambah 4x lipatπŸ˜‚✌️

Once upon a time, in my mother-in-law' home there are two wifes, beauty and the beast *nunjuk ipar then nunjuk hidung sendiri, huahahah. 

Sejak menikah saya bener-bener mengabaikan perawatan wajah, pakai krim pelembab cuma 1x setahun, sisanya wajah cuma dipoles bedak tabur dan lipstik kalo mau jalan ke luar. Alasannya karena saya sempat jijik ga suka kena olesan krim di wajah saya karena bawaan hamil anak pertama dan itu berlanjut sampai hampir 4 tahun lamanya.

Mungkin karena saya merasa cuma di rumah ya, ga kerja, ga bakal kena sinar matahari, ga kena udara berpolusi jadi merasa aman banget. Tapi ternyata saya salah banget! Setelah menjadi blogger saya banyak bertemu dengan beauty blogger dan banyak sekali belajar dari mereka.

Dan sekarang printilan saya nambah kira-lira 4x lipat gaesss....

2 tahun lalu isinya cuma bedak, 1 lipstik, sisir, dan parfum. Sekarang? 
Dulu cuma ada 4 item, sekarang kalo dihitung-hitung sudah nambah 4x lipat, dari skincare, make-up, sampai skincare bebikinan seperti pembersih wajah, toner, dan face mist. Dulu cuman punya 1 lipstik sekarang udah ada 6 dengan spesies berbeda (2 dikasih ipar). Sunscreen, serum, masker, toner, sampai concelear sekarang punya (tapi jangan dibandingkan sama punya beauty blogger ya, hihihi, jelas lah ini masih kalah banyak).

Dan di dalam blog ini saya mengabadikan rekam jejak perjalanan skincare saya dari nol hingga menjadi skincare-addict right nowπŸ’–.

> proyek inner skincare
> mulai kenalan sama pelembab
> naik tingkat ke perawatan anti aging
> mulai melirik perawatan mata
> the queen of skincare: sunscreen, it's a must!

Ga hanya tentang skincare, saya juga mulai belajar tentang make-up natural 😢.

> belajar ngalis
> keracunan lip tint dan ombre lips

3. Pengetahuan makin luas

Ga dipungkiri efek dari menulis adalah membuat wawasan kita jadi bertambah. Apa sebab? Sebab ketika kita menulis ada beban moril bahwa yang kita tulis itu bukan sesuatu yang menyesatkan. Untuk itu kita, mau ga mau, harus melakukan "riset" (sekalipun kecil-kecilan) untuk memperkuat tulisan kita. Pokoknya kita akan berusaha semampu kita menyajikan tulisan berbobot di dalam "rumah" kita ini agar pembaca yang mampir mengambil faedah atas blog kita dan bagi si empunya tidak tertutup kemungkinan mendapat pahala jariyah. Ya kan?

Dan di sini saya berterima kasih banyak kepada FBB yang sudah mengadakan #FBBKolaborasi tiap bulan dengan mengambil tema besar yang cakupannya luas, dari nasional hingga internasional. Beberapa kali saya ikut meramaikannya dan ini beberapa tulisan saya di #FBBKolaborasi yang dilakukan dengan riset sepenuh hati;

> Tentang deret matematika Fibonacci yang ternyata ga cuman ada di buku Matematika tetapi juga ada di kelopak dan mahkota bunga, bahkan juga ada di setiap jengkal tubuh kita. Lengkapnya saya pernah saya tulis di sini....

> Juga tentang negara yang paling bahagia di dunia ada di sini...

> Tak lupa perihal sejarah kebangkitan literasi suatu bangsa yang menjadi cikal bakal kemajuan teknologi masa depan pernah saya tulis di sini... 

4. Circle melebar

Sebagai orang dengan tipe introvert saya bukan orang yang pandai bersosialisasi. Di lingkungan-sekolah-anak saya termasuk wali murid yang hampir ga pernah kumpul-kumpul. Saya memang bukan tipe yang mudah melebur di mana saja, saya hanya bisa cocok dengan yang sepemikiran.

Nah, ketika menjadi blogger saya dituntut untuk "bertemu" dengan banyak orang yang tidak lain adalah para blogger itu sendiri. Dalam komunitas FBB saja macam-macam tipe orang ada di sana, apalagi dengan saling follow dan blog walking antara blogger se-Indonesia jadi makin luas lingkaran pertemanan saya.

Circle yang melebar juga membuat saya banyak mengamati kepribadian masing-masing orang. Apalagi pernah mengalami depresi paska lahir membuat saya sekarang lebih mudah berempati dengan orang, tidak mudah melemparkan judging sebelum mempelajari, dan punya banyak celah reframing untuk setiap hal. Alhasil sekarang kalo bicara sudah banyak filternya, walaupun sesekali masih kelihatan nge-gass πŸ™ŠπŸ™‡. Maaf ya Sis, kalo saya kadang ngomongnya masih ga enak didengar.

5. Mulai merasakan achievment

Jujur banget, awal ngeblog saya tujuannya bukan profit oriented apalagi to be famous. Saya ngeblog karena saya memang suka nulis. Saya intovert dan sama sekali bukan makhluk verbal tapi di sisi lain saya suka baca, bayangkan gimana numpuknya yang ada di kepala karena ga tau gimana caranya keluar? Alhasil saya tumpah-ruahkan semuanya lewat tulisan.

Saya juga sempat mengalami depresi paska lahir dan cara mengakhirinya adalah dengan self healing ala saya yang tak lain adalah menulis dan blog ini menjadi jalannya. Karena depresi itu juga menjadi ide tulisan yang kemarin saya ikutkan lomba dan Qodarullah menang. Lomba pertama yang mencatut nama saya sebagai salah satu pemenangnya, achievment pertama saya. Hmmm, it's sound like "depresi membawa hikmah", isn't it? πŸ˜…

Selain itu juga beberapa job juga mulai menghampiri. Ah, ga banyak, sekali sebulan juga untung *keceplosan lagi πŸ™ŠπŸ˜‚

Hmmm, apalagi ya?

"Achievment" lain yang saya rasakan adalah teman-teman sekolah dan kuliah mengenal saya sekarang sebagai seorang blogger, tepatnya momblogger. Beberapa dari mereka pikir bahwa blogger itu keren😎 punya website itu keren 😎, padahal seandainya mereka tau bikin blog itu yaaaah gampang aja πŸ˜† asal mau belajar, dan nulis itu yaa nulis aja, ga sesusah jadi pembicara di depan umum.

Yah, intinya sekarang sematan status "momblogger" pada saya sekarang mampu mendongkrak sedikit rasa PD saya saat masyarakat masih menganggap sebelah mata seorang IRT.

***

Oke, reader....  Itu tadi hal-hal yang saya rasakan setelah terjun ke dunia blogging. AlhamduliLlaah, inti dari tulisan ini saya merasa hidup saya ada perubahan ke arah lebih baik dengan nge-blog.

Semoga ke depannya bisa menjadi blogger lebih baik lagi, blognya jadi lebih banyak manfaatnya bagi banyak orang. Aamiin aamiin ya Mujiibassailin.

***

Special thanks to buat loyal reader saya yang setia membaca tiap kali ada tulisan terbit. Padahal mah blog aku apa atuh ya, cuman reremahan di antara milyaran logaritma di search engine. Untuk sesama newbie di dunia blogging, hayuk tetap semangat nulis karena setiap tulisan sudah ditakdirkan ada pembacanya 😊.

Selamat Hari Blogger Nasional, teman-teman



Senin, 08 Oktober 2018

Mini Review Lip Tint Wardah dan Tutorial Ombre Lipstik buat Pemula

Oktober 08, 2018 5
Assalamu'alaikum.....


Demi apa coba mamak nulis tentang make-up lagi? πŸ™ˆ Hahahah, ga demi apa-apa. Mumpung lagi pede jadi dikeluarin aja, nanti akan ada masanya lagi pedenya hilang entah kemana, dijamin dah tuh ga bakal berani bikin tulisan tentang make-up.

Absurd yah? πŸ˜… Ga ah, lebih tepatnya karena saya masuk tim #antimainstream.

Apaan?? Wkwkw, udahlah... Daripada makin absurd dan yang baca malah kabur, jadi saya lanjutkan aja. Ngomong-ngomong ini adalah tulisan kedua saya tentang make-up dan masih rada-rada tremor nulisnya.

Karena saya termasuk yang pemula banget, jadi tulisan ini dipersembahkan untuk para wanita yang baru belajar mengenal make-up.

Here is my very first review about lipstick and the tutorial.

Ga pernah nge-review lipstik sekalipun dan sekarang tiba-tiba langsung review jenis lipstik terbaru di planet bumi. Karena apa? Karena saya suka banget sama hasilnya. Biarlah ya dibilang telat, tapi ya gimana emang baru nyadar sekarang koq 😁.

Jadi, dari semua jenis lipstik saya paling sukak banget sama lip tint.

Lip tint? Apa lagi tuh?

Awalnya saya ga terlalu respect sama spesies baru ini. Apaan, tinta bibir?? Hahaha, wes pokoknya kemarin itu sempat underestimate banget lah.

Kalau kita suka suudzon itu tandanya kita mainnya kurang jauh (Anonymous). 

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Daaaan akhirnya saya pun mencoba lip tint keluaran terbaru dari Wardah. Saking barunya kemarin cari-cari di toko kosmetik ga ada, dapatnya malah di penjual olshop dengan harganya yang agak mahal dari harga pasaran di daerah lain. Gpp deh, demi ini.

Saya beli shade nomor 1 karena sisa ini satu-satunya. Ternyata alhamdulillah cocok aja di bibir, tapi ga mungkin saya aplikasikan ke semua bibir karena warnanya menor abis!

Jadi, satu-satunya cara adalah dengan ombre lips.

Tapi sebelumnya saya mau mengulas sedikit tentang lip tint Wardah shade nomor 1 ini, Red Set Glow.

Kemasan lip tint Wardah ini sangat simple, dengan tutup ulir berwarna putih. Di kemasannya tertulis "cheek &  lip tint" karena memang diperuntukkan untuk memoles bibir dan pipi.



Aplikatornya bisa dilihat di bawah, lebih pendek dibanding aplikator lip cream Wardah. Teksturnya semi cream agak cair dengan bau buah segar. Hmmm, yummiii....  Semoga aromanya itu berasal dari bahan pewangi makanan ya jadi aman termakan.


Nah, kalo di swatch kalian bisa liat ya teksturnya dan warnanya. Warnanya sudah saya usahakan semirip mungkin dengan warna aslinya tapi akibatnya warna tangan saya malah ga sesuai aslinya karena udah beberapa kali edit untuk mendekati warna lip tint aslinya πŸ˜‚πŸ˜‚✌️.


Nah, karena warnanya mentereng gini saya ga yakin mau poles full di bibir, makanya kita bikin ombre aja.

Buat kalian yang belum tau apa itu ombre kalian bisa buka kamus KBBI daring. Di sana dituliskan bahwa ombre artinya adalah gradasi warna yang biasanya terdapat pada busana atau rambut. Iya, sebenarnya ombre itu nama style pengecatan pada rambut. Tapi,  sekarang justru lebih lekat pada istilah lipstik.

Jadi, jelas yaa ombre lipstik maksudnya membuat gradasi warna pada bibir, yang biasanya dari terang ke gelap.

Kalau kalian buka youtube, akan ada banyak sekali tutorial tentang ombre-mengombre ini. Mulai dari yang klaimnya untuk pemula sampai ke yang expert. Tapi, ketika saya perhatikan untuk yang pemula pun stepnya banyak banget. Kayanya 5 menit cuman demi memoles bibir doank. Aaah, sudahlah ga cocok sama saya yang rempong dengan dua anak kicik yang suka ngintil kemana-mana.
Perangkat ombre versi mamak cuma 2+1 dengan lip balm  

Akhirnya saya punya versi ombre sendiri yang selalu saya pakai kemana-mana karena saking simplenya, just take a one minute for it. Ini dia langkah-langkahnya;

1. Oleskan lip balm secara menyeluruh pada bibir

2. Gunakan lip cream warna nude untuk mengisi pinggiran bibir. Saya menggunakan shade 18 Saturdate Night. Menurut saya ini terlalu "gelap" nudenya, kalian bisa pilih yang lebih "terang".

3. Tap-tap dengan tissu agar lip creamnya cepat menempel dan mengurangi residu cream yang berlebihan

4. Giliran lip tint dioleskan ke tengah bibir atas dan bawah. Diamkan sebentar agar warnanya menjadi kuat di tengah. Selanjutnya tap aja dengan tangan agar warna gradasinya terlihat menyatu dan natural. Jangan katupkan bibir untuk meratakan ya karena nanti akan melebar warnanya dan gradasi akan gagal terbentuk.

5. Langkahnya boleh selesai sampai nomor 4 saja. Tapi jika dirasa kurang sreg, setelah lip tint sudah kering bisa menambahkan bedak tabur di pinggiran bibir. Caranya, katupkan bibir, lalu tap-tap bibir terluar dengan spons bedak, tipis aja.

Voilaaaa..... Selesai ombre lipstik super simple ala hecticmak πŸ˜….

Tutorial ombre lipstik super simple


Sebenarnya bisa saja menambahkan lip gloss transparan untuk sentuhan akhir, tapi saya ga pede sama sekali kalo harus nge-blink-blink di daerah bibir πŸ˜†.

Trend ombre lipstik yang berasal dari negeri gingseng, Korea ini cocok banget buat kalian yang punya bibir tebal. Gradasi yang diciptakan membuat kesan bibir tipis, mungil, dan segar. Selain itu juga cocok untuk para mamak-mamak yang ingin tampil meremaja terutama di hadapan suami.

Kalian para mastah yang tersesat dengan ikhlas di sini, mungkin ada yang mau membagikan ombre lipstik ala diri sendiri? Share di komen, yuk!

Sabtu, 06 Oktober 2018

Si Expert buat Sang Amatir | Review Eyebrow Kit Wardah EyeXpert

Oktober 06, 2018 19

Ya salaaam.... Baru kemarin dengan bangganya bikin caption untuk foto selfie "tim #noalis". Sekarang malah keracunan eyebrow kit. Benar lah kata orang kalau kita diuji sesuai perkataan kita πŸ™„.  Maafkan ya atas segala khilaf mamak πŸ™‡. 


Assalamu'alaikum.....

I'm back readers! Kali ini kembali meramaikan label Beauty Talk saya yang kayanya jadi label terbanyak tulisannya di blog campursari ini. Tapi, dari sekian banyaknya tulisan tentang kecantikan ini adalah my very first review about make-up. Dan percayalah saya rada-rada tremor nulisnya.

I'm not a make-up enthusiast, just a skincare-addict.

Jika bagi sebagian perempuan pantang keluar rumah sebelum ngalis, maka bagi saya ga ngalis itu biasa banget. Memang dari awal sebenarnya saya bukan tipe perempuan yang doyan make-up sih ya karena keturunan mama yang memang kesehariannya no make-up bahkan make lipstik pun juarang banget. Bahkan zaman puber dulu juga arahnya ga ke dandan saya mah. Sama sekali urusan dandan itu saya akui super telat.

Tapi, ga tau ini ya ada angin apa jadi tiba-tiba pengen ngalis, hahaha.

Dan sejauh ini saya hanya pernah make pensil alis dari Viva, itupun hadiah dari suami waktu nikahan dulu, salah satu dari hantaran nikah. Dan pensil alis itu di saya bikin alis rontok. Jadi, untuk kali ini saya akan skip ngalis dengan pensil.

Fortunately, ternyata ada ya yang bentuknya powder padat. Saya baru tau, hihihi. Dan akhirnya belilah saya Eyebrow Kit Wardah ini dengan pertimbangan sudah include sikatnya. Yeaaay, akhirnya mamak sekarang jadi #timalis πŸ˜‚.

Informasi Produk


Nama produk: Eyebrow Kit Wardah EyeXpert
Isi: 2 shades dan 1 concelear plus mini angled brush dan spoolie
No BPOM: NA 18171204308
Harga: Rp. 60.000

Jadi, ini adalah sepaket perangkat ngalis dari Wardah yang bentuknya powder padat dengan 2 shades, light brown dan dark brown plus concelear. 

Concelear buat apa? Buat merapikan alis yang tidak ikut dibentuk. Udah ga zaman kan ya membentuk alis pakai dicabut, selain itu juga kalo dalam Islam, it's a forbidden to do.

Kemasan

Kemasannya so simple dan travel friendly. Looknya juga mewah untuk hitungan produk lokal.

Eyebrow kit ini selain di dalamnya ada eyebrow powder dan concelearnya, juga dilengkapi dengan cermin, spoolie dan angled brush yang ketiganya serba mini. Semua perangkat itu dikemas dalam wadah yang lumayan elegan dan kokoh. Sekilas ini mirip banget sama eyeshadow nya. Sumpah. 

Kenapa saya bilang kokoh? Karena setidaknya saya sudah membuktikannya karena sudah pernah dilempar anak dan eyebrow powdernya ga retak sama sekali pun dengan cermin dan wadahnya. Tapi, plis kalian ga usah coba di rumah lah ya, hahaha.

Dibungkus dengan kemasan karton yang berwarna metalik, informasi di dalam kemasannya terdiri dari: no BPOM, tanggal ekspired, nama produsen, netto, dan cara pakai. Menurut saya penting banget mencantumkan cara pakai apalagi untuk kawula pemula.
Tutorial sederhana untuk pemula

Tekstur, Pigmentasi, Swatch, dan Ketahanan.

Untuk tekstur eyebrow powder saya ga ada masalah, enak dipakai dan ga terlalu messy alias berantakan dengan debu-debu powdernya. Tapi, untuk concelearnya termasuk yang susah diaplikasikan. Kurang creamy dan lumayan keras. Dan lagi di saya warna concelearnya 1 tone di atas kulit wajah alias terlalu terang jadinya jarang dipakai.

Untuk pigmentasi si eyebrow powder saya suka deh, karena sekali apply warnanya langsung keluar, jelas banget. Warnanya juga natural. Untuk saya yang super amatir di dunia peralisan lumayan mudah untuk belajar ngalis senatural mungkin. Tapi, tetap ya di awal belajar alis saya lebih mirip Sinchan daripada Sancay, hahaha. Masalah teknik aja sih itu. Hmm, ada yang mau ngajarin?


Untuk warnanya seperti yang sudah saya tulis sebelumnya terdiri dari 2 warna; cokelat terang dan cokelat gelap, 2 warna yang akan memberikan kesan alami pada alis kita. Seperti yang terlihat ketika diswatch tidak ada hint kemerahannya.

Untuk ketahanan sih saya kurang ngerti, apakah ini termasuk yang long lasting apa ga, karena saya jarang make seharian. Sejauh ini saya cuma pernah 1x make ke kondangan yang harinya cetar panasnya plus sambil jaga 2 bocah, kebayang keringatnya? Tapi pulangnya masih stay on koq.

Oh iya, eyebrow kit ini saya pilih karena dilengkapi dengan cermin mungil dan angel brush buat membentuk alis dan spoolie buat menyikat alis (((alis disikat???))).

Mini twins from EyeXpert

Beberapa orang mungkin menaruh rate 2/5 untuk mereka berdua, tapi bagi saya yang pemula ini dua aplikator itu lumayan enak dipakai koq.  Mungkin karena saya ga punya pembanding kali ya, tapi beneran deh enak aja digunakan.

Cara Pakai

1. Bingkai alis dengan eyebrow powder menggunakan angled brush. Kalau saya, bingkai bawah panjangnya sesuai dengan panjang alis sedang untuk bingkai atas 3/4 alis alias lebih menjorok ke belakang.

2. Warnai alis dengan eyebrow powder. Kalau saya, warnainya dari tengah ke belakang, ga dari depan, karena kalo full jatuhnya malah kaya alis Sinchan.

3. Sikat alis dengan spoolie brush untuk meratakan warna dan memberikan sedikit gradasi di area depan.

4. Gunakan concelear untuk merapikan jika mau.

Ini hasilnya. Keliatan ya belum berhasil ngebentuk alisnya, hihihi... Sejauh ini fungsi eyebrow kit bagi saya adalah hanya sebagai penolong agar alis ga "tenggelam" ketika wajah dimake-up.

Final Verdict

Untuk eyebrow kit Wardah ini saya rela deh kasih rate 4/5 πŸ’–.

Repurchase? I dont know, karena saya juga ga tau harus menghabiskan eyebrow kit ini berapa lama. Setahun? Dua tahun? Entah πŸ˜‚.

Kamis, 04 Oktober 2018

Karena Setiap Orang Punya Jalannya Masing-Masing

Oktober 04, 2018 0
Ketika bertemu dengan teman sekolah yang lama tidak saling mengontak - padahal dulu sempat akrab-, apa yang kalian lakukan?

Apa? Bertanya kabar? Ah, biasa. Kalau aku jelas tidak akan melakukan itu, apalagi kalau teman itu laki-laki. Bertanya kabar? Aku tidak bisa, tepatnya aku tidak pintar basa-basi.

Jadi, apa yang aku lakukan ketika bertemu teman laki-laki lamaku? Bertanya apakah dia sudah menikah apa belum. Just as simple as like that. Sungguh pembuka percakapan yang entah darimana aku pelajari.

***

"Pak, kalo memang sedang tidak ada calon, aku mau mengenalkan teman kuliahku, pengusaha juga kaya bapak, mungkin cocok",

Seperti itulah kira-kira tawaran yang aku sampaikan kepada Eko, teman SMA yang lama lost contact. Tawaran yang entah kenapa aku ulangi sekali lagi. Tawaran yang pernah dia tolak 3 bulan lalu karena 2 alasan; sudah punya calon dan hanya mau punya istri yang siap di rumah, bukan bekerja.

Mendengar kata "pengusaha" rasanya aku tau Eko akan menolaknya lagi, tapi aku yakinkan bahwa teman perempuanku ini siap mengikuti kemana suaminya nanti pergi walau dia sendiri punya bisnis. Lalu, Eko bertanya perihal kesalihan teman yang aku tawarkan. Aku bingung menjawab apa, aku tidak berani menjaminnya, biar dia menilainya. Aku hanya menjawab,

"Orangnya ni suka dengerin kajian ustadz di youtube kalo malam. Dulu kuliah pakai jins dan ketat, tapi sekarang udah ga pakai lagi kayanya, udah sering liat pakai gamis syar'i. Suka baca buku juga kaya, Bapak. Nah, gimana menurut Bapak?", tanyaku setelah berusaha menjelaskan.

"Oke, deh. Boleh coba".

Yesss!

***

Hari itu aku menawarkan kepada Mahe, laki-laki kesekian untuk dikenalkan, siapa tau berjodoh. Laki-laki yang sudah aku kantongi namanya, sudah kukenal orangnya, dan sudah kuamati sepak terjangnya. Hanya 1 yang tidak kumiliki, yaitu fotonya.

"Mahe, aku punya teman. Pengusaha juga, developer. Kawan SMA, baik orangnya. Maukah kukenalkan?", tanyaku via WhatsApp setelah memberitahukannya nama lengkapnya.

"Ok, boleh. Kasih ja nomorku. Aku lagi sibuk sekarang", jawabnya kilat.

Ciee... Mahe, tumben cepat jawabnya. Biasanya chatku dijawab lama apalagi akhir-akhir ini dia makin sibuk dengan usaha gamis syar'i nya yang makin berkembang.

Iya, dulu kami sempat sering berbalas chat.  Waktu itu dia masih senggang, masih banyak waktu membaca novel, masih rajin mendengar kajian ustadz favoritnya di youtube. Tapi setelah usahanya mulai besar, mulai punya brand sendiri, sepertinya semuanya tidak sama. Ngobrol jarang, pamer novel lebih jarang lagi. Dengar kajian? Wallohua'lam. Mungkin masih, semoga masih.

"Kriteria suami km apa, Mahe?", tanyaku suatu saat.

"Apa lah.... Hmm, harus tinggi dari aku, sayang sama kucing, dan bertanggung jawab", balasnya.

"Ih, physicly banget Mahe, wkwkwk. Harus kaya juga?", tanyaku lagi.

"Hm......susah untuk dijawab, hahaha", jawabnya.

Susah dijawab katanya? Ya jelas... Hanya pertanyaan konyol yang susah untuk dijawab.

"Mahe, kalo dapat suami orang jauh kayapa bisnis km?, tanyaku lagi.

"Aku ikut suami kemana membawa. Bisnisku by remote"

Hmm, aku rasa ketika Mahe menyatakan itu seperti yakin sekali. Bener yakin?? Entahlah.

Ok, kembali ke cerita awal....

Setelah aku berikan nomor Mahe, tak kusangka Eko langsung mengubunginya siang itu juga. Jelaslah, aku berikan informasi tentang wanitanya beserta fotonya πŸ˜…. By the way, this's my second trying untuk mengenalkan keduanya setelah 3 bulan lalu aku "ditolak" mentah-mentah oleh Eko.

Gimana rasanya ditolak? Biasa aja sih, paling kebas-kebas gitu. Koq kebas? Iya, saking ditebal-tebalin πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

"Gimana, Pak?", tanyaku kemudian.

"Orangnya kayanya asik 😁", jawabnya sambil kirim skrinsyut percakapan pembuka mereka.

Tak kusangka lagi ternyata itu chat pertama dan terakhir mereka dalam beberapa pekan kemudian. Apa pasal? Pasalnya sang wanitanya mulai berulah.

"Culasnya kadada fotonya di profil", sungut Mahe malamnya. Aku tau itu kode dari Mahe sebenarnya supaya aku segera kirimkan fotonya. Memang sengaja tidak aku kasih. Aku tau Mahe physicly sekali, bagiku itu sadis, itu juga salah satu bagian yang tak kusuka darinya.

"Tingginya berapa Fika?", tanyanya kemudian.

"Kenalan ja dulu Mahe. Foto mah gampang. Orangnya baik, usahanya dari nol, inya bukan orang sugih, tapi punya mental sugih", jawabku meyakinkan Mahe. Aku seperti orang yang ketakutan, takut ditolak lagi, tapi justru malah kelihatannya aku seperti melebih-lebihkan.

"Tingginya berapa?", tanyanya ulang.

"Hmm, berapalah.... tingginya pas SMA kurleb aku sih, ga tau sekarang", jawabku.

"Oh, iya, sudah... Aku sudah bisa membayangkan".

Setelah itu tidak ada lagi balasan selanjutnya dari Mahe. Ah, apakah yang ini akan ditolak juga karena masalah sepele? Rugi, Mahe. Rugi! Aku mengomel dalam hati, gondok.

Besoknya tiba-tiba Mahe kirim foto seseorang,

"Ini kah?", tanyanya dengan melampirkan foto temanku dengan baju inisial TDA. Dari nadanya aku sudah siap untuk lemas lunglai.

"Iya, Mahe", jawabku.

Dan setelahnya kami tidak ada lagi berhubungan. Selama itu pula aku tidak habis pikir dengan Mahe. Menolak karena laki-lakinya tidak lebih tinggi darinya? Not make a sense! Jujur, saat itu aku sempat tidak suka dengannya. Bahkan aku bersumpah tidak akan lagi mencarikannya jodoh. Cari sendiri aja sana, Ciiilll!!!

Eko juga tidak ada kabarnya setelah hari itu. Ah, sudahlah.... pupus harapanku.

Hingga sebulan kemudian Mahe tiba-tiba menghubungiku,

"Fika, Eko agresif banar"

Hah? Apaa??? Sebentar! Maksudnya? Perlu 5 menit rasanya saat itu untuk mengerti apa yang ditulis Mahe.

"Eko masih menghubungi???", tanyaku tujuh perdelapan tidak percaya. Koq bisa-bisanya dia tidak cerita??

"Masih, kada pernah putus dari awal dikenalkan semalam. Inya pede mampus orangnya",

"Ohya? Hahaha, baguslah", jawabku sekenanya. Sumpah, aku bingung sekali waktu itu harus merespon apa. Di satu sisi senang, di sisi lain ada rasa semacam dilupakan. Teganya kau......

Besoknya aku minta Mahe cerita lebih detil lagi. Saat itu aku menangkap Mahe belum yakin sama sekali dengan laki-laki super pede yang tiap hari menghubunginya itu.

"Sebenarnya aku juga sudah dikenalkan lawan orang. Mamanya ketemu aku di pesawat waktu ku ke Jakarta. Mamanya tu yang handak banar menjodohkan", akhirnya Mahe cerita keadaan yang sebenarnya.

"Oya? Bagus donk, banyak pilihan. Orang mana?", tanyaku.

Laki-laki yang Mahe maksud itu tinggal di Banjarmasin dengan profesi yang mapan dan dibayar dengan dolar. Tapi, aku pikir Mahe kurang cocok dengan lelaki itu karena aku tau Mahe tipe kelatikan dan cerewet. Dinamis intinya. Dan sebaliknya, si lelaki itu pekerjaannya hanya di depan komputer sepanjang hari di dalam kamar, keluar kamar hanya saat makan dan sholat saja.

Weww, I can't imagine how two very different people united in married. Akan banyak sekali energi yang dikeluarkan untuk menyamakan ritme dan memaklumi kepribadian yang bagai langit dan bumi.

"Mahe, menurut km kayapa kalo suami istri sifatnya jauh? Misal km dengan dia, km tu kesana kemari kujuk-kujuk, cerewet...... Sedang dia diam aja di rumah, pendiam jua. Kayapa kira-kira?,

"Iya lah, jadi aku nanti keliatannya yang kerja, hahaha",

Let's think deeply.

"Kalo Eko tu dinamis, kaya km juga, mantan motivator, pasti "cerewet" jga kaya km. Cocok sih, kepribadian kalian kada beda jauh", aku mencoba memberi masukan. Kuharap aku adil memberikan pandangan ini.

Tapi, karena lelaki itu lebih dulu dikenalkan kepada Mahe, jadi aku tetap sarankan Mahe membuka kesempatan juga. Aku, walaupun punya kandidat sendiri tapi tetap harus objektif dan adil.  Laki-laki itu juga punya hak apalagi dia memang lebih dulu dikenalkan.

Tapi, untuk kasus ini justru Mahenya merasa dirinya lebih agresif dibanding laki-laki itu.

"Dimana mukaku Fika, mehubungi lakiannya duluan? Jaka kada karena mamanya kada mau aku",

"Wakakakak, yaaa terserah Mahe πŸ˜‚. Aku kan cuma berusaha imbang aja, jadi km bisa menilai keduanya secara objektif. Kasih kesempatan keduanya", jawabku.

"Ya sudah, aku coba Eko dulu",

"Kalo mama km kayapa?",

"Mamaku condong ke programmer itu sih, menyuruh ketemuan dulu, tapi orangnya pasif banar, aku terus mehubungi, kayapa yo?",

"Nah, kalo aku dulu tuh, pas yang datang ada 2 orang jua, aku bingung kada bisa milih. Mamaku kusuruh milihπŸ˜„ ya jadi inilah pilihan mamaku",

"Aaarrgh, Fikaa, aku jadi tambah binguuung!!!",

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ dan Mahe pun bimbang di antara 2 pilihan.

***

Singkat cerita, aku akhirnya mendengar keputusan Mahe untuk menemui Eko lebih dulu daripada si programmer itu.

"Kada boleh beduaan!",

"Haha, siap. Aku bawa keponakan", kata Mahe.

"Kada boleh beduaan!", tegasku sekali lagi, kali ini ke Eko.

"Kada beduaan, Bu. Nanti bertiga sama penghulu 😁",

Astaga, bener kata Mahe, Eko pede mampus!

Seingatku hari itu hari Rabu, malamnya mereka berjanji bertemu di Duta Mall. Kenapa harus malam? Karena Mahe pagi sampai sore mengurus tokonya. Tersisalah malam harinya yang free. Aku sebenarnya agak menyayangkan kenapa tidak diusahakan sore aja, toh Mahe punya asisten juga di toko. Tapi ya sudahlah, sudah berlalu.

Aku juga tidak memberi breefing apa-apa ke Mahe. Aku pikir Mahe sudah lebih dari paham apa yang harus dilakukan. Tapi, nyatanya aku salah....

Malam itu adalah very first time mereka ketemuan dan harusnya itu berkesan bagi mereka. Awalnya aku tidak tau cerita mereka malam itu. Mahe tidak cerita langsung sepulang dari Duta Mall. Eko apalagi, aku sudah delete kontaknya beberapa waktu lalu. Jadi, nyaris aku mengandalkan cerita dari satu sisi.

Sepekan setelah ketemuan kutanya Mahe adakah lagi dihubungi? Mahe menjawab "ga ada"  dengan nada hopeless. Aku sudah mencium ketidakberesan. Aku desak Mahe supaya cerita yang sebenarnya.

Akhirnya Mahe bilang kalo kemarin ketemuan dia pakai celana. Alasannya karena dia tidak ingin pencitraan di hadapan Eko

Hah? Ya ampuuun! Pakai celana saat ketemuan? Bukannya sudah hijrah? Aku ga tau Mahe masih suka pakai celana. Seketika langsung ambrol image Mahe yang aku gadang-gadang ke hadapan Eko.

Rasanya saat itu pengen tereaak ke Mahe, "Tolong, Non ya! Dikondisikan. Di-kon-di-si-kan!!!"

"Fix, Mahe. Ini salahnya di km. Ya sudah aku aja yang menghubunginya kalo km tetap kada mau mehubungi duluan", kataku akhirnya memberi solusi, masih setengah jengkel.

Besoknya, setelah aku mendinginkan kepala dan menyusun kalimat terbaik, aku menghubungi Eko,

"Eko, aku di sini sebagai perantara. Mahe tu temanku, kalo km gantung Mahe aku yang kada enak. Aku tau km kecewa melihat Mahe pakai celana, aku jua baru tau kalo ternyata malam itu Mahe kada pakai gamis syar'i. Terserah km apakah ini mau dilanjut apa kada, tapi tolong jangan digantung. Kalo mau lanjut silakan, kalo kada bilang aja, sudahi sampai sini aja. Kadapapa, kada masalah, asal jangan digantung", chatku kali ini sungguh panjang lebar.

Masih belum ada balasan..... Ah, kenapa taaruf kalian serumit ini sih. Aku kemarin mudah saja.

"Aku kada tau kenapa Mahe pakai celana, bisa jadi karena inya kada mau pencitraan di hadapan km", lanjutku.

Akhirnya chatku berbalas.....

"Aku kecewa lawan Mahe. Selain itu ternyata Mahe handak ketemuan dengan laki-laki lain setelah aku. Aku kada suka caranya, "

Astaga?? Mahe serius? Ngapain segala programmer itu diceritakan???  Gemasnya akoooohhhh.....

"Laki-laki yang mana?? Chat aja kada pernah berbalas, handak ketemuan gimana??", jawabku gemas, lebih gemas ke Mahe sebenarnya.

Lama aku menunggu balasannya, akhirnya dia balas

"Bilang ke Mahe, tunggu di KUA", singkat, padat, jelas.

Jelas membuat aku melongo dibuatnya. KUA katanya? Hahaha. Manusia aneh.

Tidak menunggu lama akupun langsung mengabari Mahe, dia membalas,

"Unpredictable 😊. Makasih Fika, selanjutnya biar aku yang eksekusi. Aku belum yakin 100% dengan Eko, tapi aku sudah mau umroh untuk minta dikuatkan lagi".

Aku tau, di seberang sana, walau aku tidak melihat, ada sepasang mata yang berkaca-kaca, senyumnya mulai terkembang dan nafasnya kembali lega.

Mahe yang beberapa hari itu sangat cemas dengan hubungannya dengan Eko, apakah akan berakhir atau lanjut, dan sekaligus setengah menyesal kenapa tidak mendahulukan si programmer saja, siapa tau tidak akan serumit ini, dan menyangka akan kehilangan kesempatan dari 2 orang yang datang padanya di saat hampir  bersamaan, saat-saat itulah dia memutuskan untuk menjalankan umroh.

Umroh yang ternyata bersamaan waktunya dengan laki-laki yang belum pasti dia yakini itu.

***

Ada 1 lagi sebenarnya kerikil tajam dan besar mewarnai perjalanan taaruf 7 bulan mereka dan beberapa kerikil kecil lainnya yang cukup membuat mereka saling mengerti dengan siapa mereka berhadapan. Kerikil yang lebih besar itu bahkan aku kira akan meretakkan hubungan mereka karena aku pikir sangat fatal. Tapi nyatanya yaah akhirnya mereka bisa melalui itu semua.


Ada keegoan yang besar, kecemburuan, ketidak patuhan, sampai (sifat) kekanak-kanakan yang muncul saat mereka berkonflik. Kadang meletup-letup dan kadang manis harmonis. Yaah, aku pikir itu sifat yang lazim dimiliki semua orang, karena akupun sampai sekarang masih merasa seperti itu juga. Justru akan lebih baik bagi mereka karena sudah saling tau sehingga bisa memprediksi sifat pasangan agar setelah menikah tidak akan terlalu kaget dan terhenyak.

Aku tidak punya hak menceritakan secara rinci di sini. Semoga mereka bisa mengingat bagaimana dulu awal perkenalan mereka hingga akhirnya menjadi yakin dan semakin yakin satu sama lain.

Sesungguhnya setiap kita sudah ditentukan Alloh garis takdirnya, hidup, mati, jodoh, dan rezeki, jauh 50.000 tahun sebelum Alloh ciptakan bumi. Maka, aku juga percaya bahwa pertemuan mereka, jalan taaruf mereka, hingga pernikahan mereka sudah dituliskan Alloh. Karena tiap orang punya jalannya masing-masing.


Akhirnya aku hanya bisa berdoa semoga pernikahan mereka sakinah, mawadah, warrohmah. Bisa mengambil pelajaran dari masalah-masalah yang dihadapi saat taaruf, bagaimana istri harus taat pada suami terlebih jika itu sesuai syariat Islam, bagaimana suami memperlakukan istri yang pada fitrahnya bengkok. Semoga kita semua menjadi pasangan yang saling memperbaiki satu sama lain, menuju pribadi yang lebih baik lagi setelah menikah, dan dikaruniai anak sholih penyelamat orangtuanya di akhirat kelak. Aamiin aamiin ya Mujiibassailin.....



Jumat, 28 September 2018

Terimakasih Sudah Menjadi Teman Baikku

September 28, 2018 0
Fika, km kada cocok kuliah di fisika. Cocoknya km kuliah di biologi aja.
(Hah? Apa katanya tadi? Kuliah di biologi? Apa salahku???) 


Menjelang akhir tahun 2007, tahun-tahun terakhir di bangku putih abu. 

"Eh Fik, mau ga aku kenalkan sama temanku, anak PGRI, baik orangnya, suka dengarkan ceramah di radio. Cocok kayanya sama kamu", kata seorang teman laki-lakiku. Kami beda kelas, dia XII IPA 1 dan aku IPA 3.

Besoknya, dia curhat tentang anak IPA 2 yang ditaksirnya. Lewat sms donk, mana berani dia curhat langsung. Hahaha. Aku yang lagi sibuk nyetrika hari itu mau-mau aja ngeladenin.

Oya, sebenarnya aku di SMA jarang sekali ngobrol dengan laki-laki apalagi sampai berbalas sms.

 Jadi, "dia" ini siapa? 

Besok-besoknya aku ditelpon sama dia, dengan durasi yang lamaa banget, malam minggu pula! Duh, untung bapak sama mama lagi ada rapat di rumah pak RT, kalo ga? Bisa diintrogasi lah aku sama bapak. Ckckckck. Kami ngobrol ngalor ngidul ga jelas, yang pasti yang aku ingat kita ngomongin pilkada di desanya *anak esema melek politik πŸ˜…

Ngomong-ngomong, 3 tahun di SMA baru ini ada laki-laki yang berani nelpon, haha, iya cuma dia doank yang berani nelpon, teman yang aku anggap teman-yang-ga-mungkin-saling-naksir. Kenapa? Karena feelingnya ke dia bukan kaya temen sih, tapi kaya adik kelas karena badannya dulu lebih kecil dari aku. Hahaha.

Kemudian kami lulus dan melanjutkan kuliah masing-masing.

Semester awal dia masih menghubungi, curhat tentang wanita yang sama, pacarnya waktu SMA...  tapi sayang kondisi aku yang tidak sama.

Satu persatu teman sekolah laki-laki yang menghubungiku ku block, termasuk dia, "jangan hubungi aku, tolong". Termasuk temannya yang dikenalkan tempo hari. Aku dengar temannya itu masuk pesantren. Tapi, yang aku bingung setelah masuk pesantren dia keukeuh menghubungiku hingga mengajak pacaran secara tersirat.

Rasanya tak terdefinisi lagi marahku saat itu. Rasanya kalimat blokade "jangan hubungi aku" ga akan mempan. Makq, esok harinya aku putuskan untuk ganti nomor, lagi.

Jika SMA adalah saat aku mulai ketat menjaga pergaulan, maka lebih-lebih lagi saat kuliah. Semester 3 ke atas akhirnya aku bisa menetralisir kontak handphone dari nama teman lelaki, teman SMA dan juga teman kuliah, sama sekali tidak ada laki-laki yang menghubungiku kecuali ketua ikhwan organisasi dakwah kampus.

Bayangkan, aku seperti mengisolasi diriku sendiri. Teman kuliah laki-laki yang sekelas juga tidak ada yang kusimpan nomornya. Aneh? Hehe, ga koq. Itu lazim di kalangan "kami". Tau kan "kami" yang saya maksud? 😊

Sayangnya, gaya pertemananku saat kuliah semakin kaku saja. Jika di sekolah aku selalu punya genk, minimal 1 sahabat, di kuliah jangankan punya genk, sahabat selama kuliah aja ga ada. Aku memang punya circle tersendiri, komunitas dengan gamis syari - kerudung lebar dan berpusat di seputaran mesjid kampus, dan karena itu teman-teman kuliah seakan menjaga jarak denganku, begitu juga dengan aku. Terlebih ketika ada 1 insiden pemicu.

Dan 1 insiden itu tidak akan aku rincikan di sini karena sungguh mencoreng image kami para jilbaber, insiden yang dilakukan 1 oknum pada akhir semester 1, tapi berimbas luas dalam jangka waktu lama, selama aku kuliah. Apa imbasnya?  Terintimadasi, tak punya teman, disabotase info beasiswa hingga jatuh bangun mengejar target cumlaude. Imbas yang tidak akan disangka oleh oknum itu. Ok, kayanya aku berlebihan masalah sabotase beasiswa dikarenakan insiden itu. Tapi nyatanya memang pernah ada yang menghalangiku untuk mendaftar beasiswa, padahal secara nilai aku yakin masuk.

Sebuah perjalanan yang tak pernah kuduga waktu SMA, karena kuliah di FKIP Fisika adalah sesuatu yang aku mimpikan sejak dulu. Ternyata sesuram ini kah?? Maka, bukan hal yang susah menghilangkan memori waktu kuliah, karena kenangan semasa itu banyak yang tidak menyenangkan bagiku. Terhapus dengan sendirinya.

Tapi, ada beberapa momen yang kuingat betul hingga hari ini.



Waktu itu semester 1, kuliah kami masih seperti SMA, ada pelajaran kimia, biologi, bahasa indonesia, bahasa inggris, kewarganegaraan, dan matematika. Mata kuliah pagi itu adalah biologi dan hari itu kami akan belajar tentang sel tumbuhan dan hewan. Hingga tiba suatu saat bu dosen melemparkan pertanyaan kepada kami,

"Ada yang bisa menggambar sel tanpa melihat buku? Sel hewan atau tumbuhan terserah", hening, tidak ada yang menjawab, "Apa? Ga ada yang bisa? Kan sudah masuk lab biologi kemarin?".

Aku melihat ke seluruh kelas, tidak ada tanda-tanda ada yang mau maju. Baiklah, aku saja. Ini gampang, pelajaran biologi kelas 2 SMA kan?

"Saya, Bu. Sel tumbuhan aja ya Bu?

"Boleh, terserah".

Sel tumbuhan pun aku gambar dengan mulus tanpa hambatan, tidak ketinggalan nama-nama bagiannya; sel plasma, mitokondria, dinding sel, ribosom, sitoplasma, kloroplas, dan.... Eh, maaf aku banyak lupa sekarang. Hahaha.

Akupun kembali duduk tanpa merasa takjub dengan diriku, ini gampang, biasa aja ah. Waktu SMA dulu kami ditugaskan untuk membuat sel tumbuhan dan hewan dalam bentuk 3D. Karena kami mengerjakan dengan betul-betul akhirnya pelajaran 2 tahun lalu masih melekat di kepala, masih sangat jelas hingga ke detil bagian sel, nama, beserta fungsinya. Tapi ternyata berbeda dengan kawan yang lain.

Minggu depannya saat kami menunggu dosen di kelas yang sama ada yang mendatangiku, perempuan putih tinggi cantik sekali.

"Fika, km kada cocok kuliah di fisika. Cocoknya km kuliah di biologi aja".

Hah? Apa katanya tadi? Kuliah di biologi? Apa salahku???

Aku hanya tersenyum kecut menanggapi. Sebenarnya aku tersinggung berat dengan ucapannya. Kuliah di fisika itu mimpiku, bisa-bisanya dia nyuruh aku kuliah di biologi aja. Apa aku terlihat tidak akan kuat menghadapi sebarek rumus fisika?

Tapi, yaa...hanya sebatas dalam hati, mana berani aku ucapkan itu di hadapannya. Posisiku dari awal di fisika memang tidak semeyakinkan Yanti, si mahasiswa fisika pertama sepanjang prodi itu dibuka yang dapat nilai A untuk the kill-est subject, Fisika Modern.

Siapa sih namanya? Sungguh orang yang sangat blak-blakan yang pernah aku kenal selama aku hidup.

Ooh, baru kutahu setelah ada yang memanggil namanya setelah kami bercakap sebentar. Namanya Halimah. Cantik orangnya, "ramah", dia orang yang pertama di luar circle-ku yang menegurku. Walau aku tersinggung dengan cara menyapanya padaku untuk yang pertama kali, entah kenapa aku suka berteman dengannya.

Tapi, kami beda kelompok. Sangat berbeda. Walaupun begitu dia yang paling baik di antara teman-teman yang lain padaku.

***

Semester 2 aku lalui dengan susah payah. Image jilbaber yang runtuh membuat kondisi "kami" susah mengikuti perkuliahan. Semester 2 dan 3 aku lalui dengan banyak diam di kelas, tidak aktif seperti semester 1. Jika aku masih SMP atau SMA mungkin sudah aku tumpahkan kesedihanku ke sahabat-sahabatku dan mereka akan berlomba-lomba menyemangatiku. Tapi, saat kuliah? No one, nothing, at all.

Hingga suatu sore menjelang magrib setelah selesai kuliah, ada seseorang yang menghampiri tiba-tiba,

"Fika, kenapa berubah di semester 3? Jadi lebih pendiam. Dulu km aktif banar",

Aku yang bingung karena sama sekali tanpa basa-basi teman ini menanyaiku, hanya bisa menjawab,

"Eh, oh? Masa? Hehe".

Dan teman yang menegurku itu adalah orang yang sama dengan yang menegurku tentang pindah prodi ke biologi. Sejak sore itu, Halimah yang punya nama beken Mahe, menyadarkanku bahwa aku telah berubah menjadi mahasiswa pasif dan....jangan ditanya semangat belajarku, ini bahkan yang terendah selama aku hidup.

Nilai C beberapa kali hinggap di KRS, Fisika Modern harus aku recost karena aku sama sekali tak paham dengan materinya, bahkan ternodinamika harus 2x recost untuk sekedar paham hukum 1, 2, dan 3 Termodinamika. Aku kehilangan ruh belajar.

Long story short....

Kami akhirnya lulus kuliah. Bukan hal yang gampang keluar dari kondisi yang sangat tidak mendukung itu. Saking tidak mendukungnya, tidak kurang totalnya 5x recost selama kuliah "hanya" untuk mencapai IPK cumlaude. Padahal aku pikir dulu aku akan melewati perkuliahan dengan mudah dan menyenangkan. Ternyata jauh panggang dari api.

Aku akhirnya menikah setelah 6 bulan lulus. Tinggal di pedalaman untuk menemani suami mengabdi setelah dia lulus kuliah. Entah bagaimana caranya aku kembali berhubungan dengan Mahe. Padahal sejak kejadian itu aku dan dia tidak lantas menjadi sahabat, hanya teman biasa, teman baik, tidak juga saling mengabari atau bertanya tugas. Dia asik dengan genk-nya, aku fokus dengan aktivitasku di mesjid saat itu.

***

Seperti bola yang ada di dalam baskom, banyak yang berwarna abu-abu dan hanya sedikit yang berwarna kuning atau orange atau warna terang lain, maka mudah sekali bagi kita untuk mengambil bola warna terang tersebut, bukan?

Maka, seperti itu lah dia di memoriku. Mudah sekali mengingat tentangnya karena kebaikannya. Iya, aku anggap dia baik, memang dia dikenal baik, baik rupanya baik sikapnya. Walau dia suka blak-blakan tapi nyatanya dia tidak bermaksud menyinggungku. Hanya dia yang mau menyapaku di luar lingkaranku. Dia baik, aku ingat sekali hal itu. Hanya satu saja yang disayangkan darinya, sayang dia masih bercelana jins ketat dan baju yang tidak kalah ketatnya. Kerudung? Hanya seperti asesoris cantik di kepalanya.

Hingga suatu hari, setelah kami sama-sama lulus, aku lihat dia sering meng-upload dirinya berbalut gamis syari, menulis status tentang kajian yang dilihatnya via youtube, memamerkan buku-buku yang sedang ia baca, dan punya beberapa list ustadz favoritnya. Ya ampun, Mahe berubah? Tambah baik. Atau karena dia jualan gamis syar'i yang memang lagi nge-hits belakangan ini. Tapi apapun itu AlhamduliLlaah dia sudah tidak berjins ketat lagi. Akupun akhirnya tau dia juga belum menikah.

Kenapa ada orang secantik dia, sebaik dia, sekaya dia, sepintar dia belum juga menikah??? Akupun tiba-tiba menjadi gatal. Bukan, bukan gatal mengintrogasi. Hahaha. Aku gatal mau mencarikan jodoh untuknya.

Aku ini siapa, sahabatnya bukan, teman genknya bukan. Tapi, tanpa diminta aku sukarela membantunya mencarikan "seseorang". Kenapa aku bisa se-rese' ini dengannya? Gampang saja, ingat teori bola abu-abu tadi.

Sepertinya aku tidak perlu menambahkan ceritanya menjadi lebih panjang dengan mengungkit pasang surut pencarian jodoh untuknya. Intinya, banyak penolakan dari Mahe. Ya iyalaah, mencarikannya jodoh yang selevel itu susah. 2 3x ditolak ga masalah, tapi ketika sudah 4 5x rasanya 😴😴😴 bangett.

***

Oh iya, apa kabar teman SMA ku tadi ya? Kudengar dia sudah jadi orang sukses. Dulu sering kulihat statusnya sangat menggebu-gebu dan menginspirasi. Ternyata aku baru tau sekarang dia jadi motivator. Astaga, Eko.. .  Tidak kusangka. Jadi motivator?? Bagaimana bisa??

Akupun memberanikan diri menghubunginya via inbox facebook. Apa hal yang bikin aku senekat itu? Padahal dulu aku memblokade dia, menyuruhnya jangan menghubungiku lagi sekalipun cuma bertanya kabar.

Ialah tentang adek laki-laki ku satu-satunya. Aku ingin adek belajar darinya. Tentang hal di luar perkuliahannya, tentang soft-skills yang Eko maksud di setiap seminarnya. Tolong, teman... Ajarkan adekku.

Tapi apa yang kudapat? Nothing. Aku minta pin BBMnya dengan maksud agar dia bisa menjadi teman adek, syukur-syukur mau ngajarin adek dan adek belajar banyak hal tentang dia yang out of the box. Tapi, sayang tak digubris. Kusuruh adek mendelete kontaknya. Sudahlah, mungkin dia masih marah karena perlakuanku dulu, waktu dia sedang down karena masalahnya dengan pacar SMA nya aku malah menutup "pintu" curhat rapat-rapat.

Setelah beberapa tahun berlalu aku lihat lagi postingannya berbau lain. Dia tidak lagi jadi motivator, tapi juga tidak kalah bergengsi. Apa? Jadi developer syar'i?? Astaga, aku ternyata punya  #CrazyRichFriend. Sama sekali aku tidak menyangka dia bakal setinggi itu pencapaiannya dalam usia semuda ini. Masya Alloh, salut lah. Seandainya kami masih berteman seperti dulu banyak hal yang ingin aku ungkapkan. "Selamat, from zero to hero", mungkin itu salah satunya.

Hingga akhirnya dia punya instagram dan memfollow aku, ga GR sih, wajar kan dia cari calon customer. Saat itu dia menawarkan di feed instagramnya tanah kavlingan di daerah Pelaihari, kampungku. Aku yang sudah lama berniat mencari investasi akhirnya menghubunginya setelah berdiskusi dengan suami. Pengen rasanya ambil salah satunya, tapi akhirnya tidak jadi karena.......aku tiba-tiba berganti target untuk fokus saja membayar hutang secepatnya, baru kemudian mikirkan investasi. Ga enak ya punya hutang, hahahaha *emaaaanng.

Aku memang tidak jadi beli tanah yang ditawarkannya.  Tapi, entah kenapa harus ada yang aku sampaikan sebelum aku menyudahi hubungan muamalah ini.

***

Waktu itu Desember 2017,

"Bapak, sudah punya calon? Kalo belum punya, aku ada temen, pengusaha juga, mungkin cocok", kataku.

Astaga, muka tembok kali aku saat itu.

Dan dia jawab secara implisit kalo dia sudah punya. Hmmm, ok lah kalo begitu...

Setelah pertanyaanku itu, aku lihat dia meng-upload fotonya berdua dengan perempuan yang ditutupi wajahnya. Oooh, ini mungkin calonnya. Lalu, dengan muka tembok sekali lagi aku bertanya,

"Ohh ini kah calonnya. Lihat donk mukanya Orang mana?", tanyaku tanpa rasa malu, hahaha

Aku lupa dia jawab apa, yang pasti dia bilang calonnya sedang co-ass. Wuihh, dapat dokter juga ini pikirku.

Setelah hari itu dia mulai menegurku. Tapi, ini berbeda. Inginku sih seperti waktu SMA dulu, saat kami tanpa ada masalah sebelumnya.

Hingga suatu hari di bulan Maret dia upload liburannya ke pantai laskar pelangi. Dan lagi-lagi entah kenapa aku bertanya tentang calonnya, tapi jawabannya aneh membuatku ingin membelokkan ke hal lain.

"Jangan bilang ga ada calon nah Pak, kalo pina aku tawari", percaya lah aku ngomong itu antara sadar dan ga.

"Eh, adakah? Mau kalo ada", sahutnya.

Hah? Tinggal lah aku yang ndomblong. Bercanda atau gimana pak haji??

"Yang kemarin juga, Pak, pengusaha seperti Bapak", jawabku.

Dan karena takut-kembali-ditolaknya, aku langsung kirim foto Mahe ke dia. Sumpah lu ga mau??? Tantangku dalam hati, hahaha.

Dan akhirnya Eko say yes! Tah kitu donk, mangsa awewe geulis ditampik. 

Apakah pencariannya selesai? Ternyata tidak sodara-sodara.

 Laki-lakinya sudah mau, eh giliran perempuannya berulah. Berusaha keras aku meyakinkan Mahe untuk mencoba, saking khawatirnya Mahe nolak lagi aku bilang "Rugi nolak dia Mahe. Rugi!".

Bahkan dalam hati aku bersumpah kalo sama Eko aja Mahe ga mau, sudah lah berhenti sampai di sini aja mencarikannya. Lelah ciiin πŸ˜‚.

***

Long story short again, dengan cerita yang tidak mulus di awal, perkenalan mereka di bulan Maret akhirnya berlabuh sebentar lagi di pelaminan. Intuisiku terhadap kedua teman baikku ini berujung manis.

30 September nanti mereka pilih sebagai tanggal yang menyaksikan ikrar mereka di hadapan Alloh untuk mengikat janji suci pernikahan. Ikrar janji yang menggetarkan Arsy Alloh swt di langit sana. Semoga kalian saling mendukung satu sama lain dan sama-sama berproses menjadi makhluk-Nya yang lebih baik lagi. Semoga dengan penyatuan dua insan seperti kalian akan membawa keberkahan dan kebaikan untuk orang banyak. Semoga Alloh melanggengkan ikatan kalian dan senantiasa menguatkannya hingga maut memisahkan dan mengumpulkan lagi di syurga-Nya. Aamiin aamiin ya Mujibassailiin.



Tertanda,

Fika,
Ditulis hari Jumat di Palangkaraya, sebelum subuh.






Minggu, 16 September 2018

Cerita Sepotong Biskuit untuk #BekalCintaJulies dan Bros Persahabatan

September 16, 2018 18

The greatest gift of life is  friendship, and I have received it (Hubert H. Humphrey) 


Assalamu'alaikum....

Juli 2018 ini adalah tahun ajaran baru untuk Muthia, si sulung saya. Benar-benar baru karena inilah kali pertama dia bersekolah. Walaupun masih sekolah TK tapi yang namanya ibu tentu ada bermacam-macam pikiran yang datang, mencemaskan ini itu, termasuk beradaptasi dengan ritme baru.

Dan sekarang genap 2 bulan sudah dia bersekolah. Setiap pulang sekolah selalu saya tanya bagaimana perasaannya, apakah hari ini menyenangkan atau ada yang membuatnya kesal.

Ya, merasakan antusiasme si sulung saya merasa bahagia, ternyata sejauh ini sekolahnya menyenangkan baginya. Sekarang setiap mendadak merasa akan sakit dia bersikeras untuk tetap sekolah dan ajaib pulang sekolah kondisinya membaik. Seperti mantra yang tidak disadari.

Tapi, cerita itu menjadi berbeda ketika di pekan-pekan pertama sekolah. Saya ingat hari ke-10 dia mulai mogok sekolah; bangun (sengaja) kesiangan dan (berlagak) sakit. Sebagai ibu saya tidak mau memaksakan apalagi dia masih masanya bermain-main dan susah disuruh duduk rapi. Tapi ketika mogoknya berlanjut sampai tiga hari saya pun jadi penasaran, kenapa Muthia jadi malas sekolah?

Setelah saya minta dia cerita ternyata ada seorang temannya yang suka membully-nya dan temannya itu tidak lain adalah ketua genk-nya. Iya, anak sekecil mereka sudah bisa membentuk kelompok sendiri ternyata. Dan sayangnya si ketua genk itu justru suka mengintimidasi Muthia.

Tapi, untungnya temannya yang lain justru baik. Muthia pernah cerita saat dia dipojokkan dan dia hanya bisa menangis tidak melawan, ada satu temannya yang kasih support ke dia, ditepuk-tepuk punggungnya sebagai penghibur tanda empati.

Bagaimana membuatnya kembali bersemangat?

Tak dipungkiri perbedaan suasana antara ketika masih di rumah dan sudah bersekolah membuat sulung saya semacam mendapatkan shock yang membuatnya tidak menemukan alasan kuat untuk sekolah. Apalagi di lingkungan kami bukan lingkungan yang banyak anak kecilnya, alhasil dia lebih sering bermain dengan adiknya saja berdua.

Buat apa sekolah? Sekolah tidak seaman di rumah. Temanku suka meneror, aku ga suka sekolah. 

Mungkin seperti itu kalau boleh saya menerjemahkannya. Akhirnya, saya punya PR pertama dan harus menyelesaikannya.

Baiklahh. . .

Pertama, saya jelaskan padanya bahwa seperti itulah sekolah, bertemu dengan macam-macam teman dan sifatnya. Tidak semuanya baik dan menyenangkan. Kalau diejek lagi menghindar saja, tidak usah ditemani, berteman sama yang baik saja.

Kedua, saya membuatkannya prakarya, sebuah surat cinta yang isinya kertas origami bentuk cinta dan kata-kata cinta, "Semangat ya Sayang sekolahnya, Ummi cinta Muthia".

Apakah ampuh? Iya, sangat ampuh. Saking ampuhnya dia memberikan itu ke gurunya. (*errrr...... malunya sayaπŸ™ˆ)

Ketiga, di pagi yang super hectic setiap harinya saya selalu berusaha untuk memeluk dirinya, mencium ubun-ubunnya dan berkata, "Semangat ya, Muthia anak cerdas dan baik". Ini penting agar jiwanya merasa tenang karena dia sudah memastikan kasih sayang orangtuanya.

Keempat, saya berusaha pula menyiapkan bekal yang sebelumnya sudah saya tanyakan dulu maunya apa. Dan untuk kali ini saya ingin mencoba kreasi dari biskuit kesukaannya.

Kreasi Semangat dari Biskuit Favorit

Membuat bekal yang menarik adalah salah satu cara saya agar dia semangat sekolah lagi.

Hari itu saya membeli dua buah biskuit untuk diolah menjadi bekal spesial. Lima pasang kepingan biskuit yang selai kacangnya sudah saya sisihkan diam-diam ternyata dimakan oleh Muthia. Tumben, pikir saya, biasanya tidak suka hambar. Ternyata ketika saya coba kepingan biskuitnya, rasanya krispi tapi tidak berhamburan dan agak sedikit gurih. Kesan pertama yang mengesankan. Hmm, pantas saja.

Biskuit Julie's dengan selai kacang ini menyatu lumer di mulut. Saya memang suka sekali biskuit selai kacang dari kecil.

"Jika dimakan biasa saja enak, apalagi dikreasikan?", begitu otak saya menjawab respon dari syaraf di lidah.

Baiklaaah,  saya putuskan kali ini akan membuat bolu krispi selai kacang untuk bekal cinta si sulung.

Cara buatnya mudah saja;
1. Buat bolu seperti resep biasa
2. Pisahkan selai kacang, cairkan dengan sedikit air lalu dipanaskan sebentar
3. Oles selai kacang di atas bolu dan tempelkan biskuitnya

Rasanya? Benar-benar bolu dengan rasa yang berbeda. Selai kacang Julie's membuat rasa bolu jadi lebih kaya. Suami yang awalnya underestimate melihat plating si bolu yang biasa saja akhirnya mengaku kalah dengan menandaskan 1 potong besar setelah sarapan (haha, iya saya ngaku kalah kalau masalah plating)

Selain biskuit Julie's selai kacang, saya membeli varian yang lain jadi sekalian juga saya akan mencoba mengkreasikannya menjadi bekal tambahan untuk Muthia.

Varian yang tak lain adalah varian favoritnya, Julie's Chocho More. Ya, dia suka sekali cokelat dan pasti tidak akan melewatkan biskuit cokelat Julie's ini.

Karena dia juga suka sekali puding jadi saya ingin menggabungkan keduanya, saya akan membuat puding pandan biskuit cokelat.


Untuk puding ini mungkin agak sedikit repot, tapi tetap akan saya bagi sedikit resepnya. Here we go.... 

Untuk lapisan pandan
1. Masukkan setengah bungkus agar-agar, gula 4 sdm, telur kocok 1 butir, dan santan instan 30 mL ke dalam panci.
2. Blender 4 lembar daun pandan dengan air sebanyak 450 mL, saring dan masukkan ke dalam panci.
3. Didihkan lalu dinginkan dalam cetakan.

Untuk lapisan cokelat
1. Masukkan setengah bungkus agar-agar, gula 2sdm, dan santan instan 30 mL ke dalam panci.
2. Larutkan 7 biskuit Julie's dalam 450 mL air, masukkan ke dalam panci.
3. Aduk terus hingga mendidih (cairan lebih kental dan mudah gosong karena faktor cokelatnya), lalu tuang ke atas lapisan pandan dan dinginkan.

Kenapa Harus Bekal? 

Ada sedikit cerita ketika saya mensurvey calon TK sebelum memutuskan menyekolahkan Muthia dimana. Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah kondisi jualan di lingkungan sekolahnya. Saya inginnya sih tidak ada yang berjualan. Tapi nampaknya agak sulit mewujudkannya karena memang rata-rata pedagang makanan ringan dan mainan selalu mendatangi sekolah.

Tapi, akhirnya saya dapat juga sekolah yang agak sesuai kriteria saya, tidak apalah hanya 2 pedagang ini; satu jualan nasi kuning dan satunya jualan minuman dan snack.

Kenapa harus (mem)bekal?

Karena bekal yang cukup akan membuat anak tidak tertarik untuk jajan. Terbukti Muthia hanya selalu menagih satu kotak susu cair setiap pulang sekolah. Sesekali merengek minta snack dan minuman segar warna-warni, tapi kemudian saya ingatkan lagi pembahasan hubungan makanan yang tidak sehat terhadap otak dan ginjal. Dan beruntung kemauannya bisa diredam langsung.

Iya, saya tuh suka sedih kalau melihat jajanan anak zaman sekarang, ga jauh-jauh dari yang namanya zat pewarna, zat pengenyal, pemanis buatan, dan pengawet, jadi dari usia 3 tahun saya coba kasih pemahaman ke sulung saya makanan apa-apa saja yang tidak baik untuk kesehatannya.

Dan untuk kasus anak kecil dengan ginjal rusak adalah benar adanya.

Baca juga: Ketika Bertemu dengan Perawat Gagal Ginjal

Dengan (mem)bekal juga mengajarkan anak berhemat dan membiasakannya menabung, menabung untuk membeli buku-buku cerita kesukaannya dan menabung untuk jalan-jalan naik pesawat lagi sesuai keinginannya.

Dan kali ini saya memilih membawakannya bekal dari kreasi biskuit Julie's.

Kenapa Harus Julie's?

1. Biskuitnya enak dan terjangkau

Dengan harga Rp 8.500 kita sudah bisa bawa 90-110 gr biskuit Julie's ke rumah. Rasa selai kacang di varian Peanut Butter Sandwich benar-benar enak, rasanya ga terlalu manis sehingga ga cepat bikin eneg, rasa kepingan biskuitnya juga crunchy dengan rasa asin gurih yang tipis, pas banget!
Kalian tim apa? 

Jika favorit saya adalah selai kacang, maka favorit Muthia adalah cokelat, tentu dengan batasan jumlah yang boleh dimakan demi keseimbangan nutrisinya.

2. Biskuitnya halal dan bermutu tinggi

Satu hal yang saya ajarkan ke sulung adalah kehalalan makanan kemasan yang hendak dibeli, jika tidak ditemukan maka pilih yang lain. Alhamdulillah biskuit Julie's seiring dengan prinsip saya. Berikut varian lengkap Julie's yang mendapat sertifikat halal MUI, Peanut Butter dan Choco More Sandwich termasuk ya.

Selain itu, perusahaan yang telah berdiri sejak 1981 ini telah terakreditasi berbagai sertifikasi kualitas, prosedur, dan keamanan pangan, di antaranya ISO 9001:2000, GMP, OSHAS, HACCP dan yang terakhir adalah Food Safety System Certification 22000 ( FSSC 22000). Dengan usaha mereka dalam mengontrol kualitas makanannya itulah saya yakin memang benar yang dikatakan mereka bahwa biskuit ini bebas pengawet dan pewarna buatan. 

Maka, bukan sesuatu yang berlebihan jika filosofi mereka berbunyi "apa yang tidak kami makan, tidak pula kami izinkan customer untuk memakannya". 

3. Biskuitnya bisa dikreasikan menjadi bekal penuh cinta. 

Karena tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan membuat saya feel less-guilty untuk mengkreasikannya menjadi bekal cinta untuk Muthia, karena seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa saya berusaha menjauhkannya dari jajanan yang tidak sehat. 


Dengan kebaikan biskuit ini, tidak heran kalau anak saya minta dibekalin biskuit ini lagi di hari berikutnya. 

"Ummi, Muthia mau bekal biskuit seperti tadi ya? Tapi jangan dibikin puding, mau biskuitnya aja lagi, mau Muthia bagi teman. Biskuitnya enak", katanya sore itu. 

Apa? Bekal biskuit doank? Baiklaaaah, itu berarti malamnya saya tidak akan repot menyiapkan bekal seperti biasanya karena anaknya hanya ingin makan biskuitnya saja. 

"Terus ini buat apa?", tanya saya sambil menunjuk 2 bros hello kitty super kecil di tasnya.  

"Ini hadiah buat Syifa. Syifa baik sama Muthia, paling baik", jawabnya polos. 

Semoga masih ingat cerita saya di awal ya, saat Muthia menangis karena dipojokkan oleh ketua genk-nya, ada satu temannya yang mendekatinya dan menepuk punggungnya untuk menenangkan. Dan Syifa nama anak perempuan itu. 

Ah... . Rasanya mau saya peluk anak itu dan bilang.....makasih banyak sudah jadi teman baik Muthia.
Bekal cinta dari biskuit favorit dan bros persahabatan 

Moms pasti suka membuatkan bekal untuk anak juga kan? Saya yakin sekali pasti bekalnya juga lebih menarik daripada saya. Yuk ah, di-share bekalnya ke media sosial Moms, selain bisa menginspirasi juga berpeluang menang loh karena ada Quiz #BekalCintaJulie's. Caranya sebagai berikut;

  • Foto bekal makanan Moms dengan biskuit Julie’s di dalamnya, lalu tulis cerita menarik di balik #BekalCintaJulies versi Moms
  • Upload di Instagram dengan mention Instagram Julies dan hashtag #BekalCintaJulies atau upload ke Facebook di kolom komentar postingan kuis dan sertakan hashtag #BekalCintaJulies

Atau lebih lengkapnya Moms bisa kunjungi halaman info ini. Hadiah totalnya 10 juta untuk 6 orang pemenang; 5 juta juara utama dan 5 juta juara hiburan. Lumayan banget kan? Yuk, jangan ragu-ragu sharing tentang bekal cinta ala Moms, siapa tau beruntung! 😊


*** 

"What we never eat, we never let the customer to eat" (The Julie's Factory)